Rabu, 06 Oktober 2010

0 komentar



smadav antivirus indonesia

Read More......

Jumat, 12 Februari 2010

0 komentar

Apakah hukum merayakan ulang tahun?
Dan bila diundang bolehkah menghadirinya?

Ini merupakan kebiasaan buruk dan hal yang tidak pernah diajarkan dalam agama Islam, dimana Allah tidak pernah menurunkan perintah tersebut. Karena hari raya merupakan hal yang taufiqiyah (telah ditentukan waktunya oleh syari'at) sebagaimana ibadah-ibadah lainnya.

Dan juga telah diriwayatkan bahwa penduduk Madinah dulunya memiliki dua hari raya dimasa jahiliyah dimana mereka bersuka ria didalamnya. Maka Allah pun menggantikannya dengan dua hari raya yang syar'i. Dan karena didalam syari'at tidak dikenal hari ulang tahun dan juga dikarenakan hal ini tidak pernah dilakukan oleh para sahabat dan shalafus shalih, maka hal ini tidak boleh dikerjakan, demikian pula dengan menghadirinya atau mendorong pelaksanaanya serta mengucapkan selamat bagi orang yang melaksanakannya, karena hal itu berarti menyetujui dan membenarkan berbuat mungkar.


Read More......
0 komentar

Remaja Muslim, Valentine's Day dan perlawanan budaya

Assalaamu'alaikum wr. wb.
Remaja Muslim masa kini "buta" terhadap peradabannya sendiri diakibatkan munculnya serangan budaya yang gencar menusuk jantung pertahanan budaya kaum Muslimin.
Setiap tanggal 14 Februari ada hiruk-pikuk remaja dunia. Mereka punya hajat besar dengan merayakan sebuah hari yang dikenal dengan Valentine's Day (Hari Valentine). Hiruk-pikuk itu kini tidak lagi menjadi milik bangsa ataupun pemeluk agama tertentu namun telah menjadi gawe semua lapisan remaja dimanapun dan dengan agama apapun. Tak peduli itu di kalangan Kristen Barat, Hindu India ataupun Muslim Indonesia.
Valentine's Day menjadi milik bersama dan setiap orang seakan wajib untuk merayakannya. Ada pertanyaan yang patut kita kemukakan. Apa sebenarnya Valentine's Day itu? Apakah esensinya? Dan bolehkah remaja Muslim ikut berkecimpung merayakannya? Apakah perayaan itu bagian dari kultur dan peradaban Islam sehingga kita harus ikut menyemarakkannya?
Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentine's Day ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang bernama Saint (Santo) Valentine, seorang suci kalangan Kristen yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada tanggal 14 Februari 269 M, di hari yang sama saat dia menyerahkan ucapan cinta.
Dalam legenda yang lain disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan selamat tinggal pada seorang gadis anak sipir penjara yang menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda tangan yang berbunyi "From Your Valentine" ada pula yang menyebutkan bahwa bunyi pesan akhir itu adalah " Love From Your Valentine".

Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Namun banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide "gila". Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengizinkan laki-laki kawin.
Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadad. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan ini sungguh sangat mengasyikkan. Bayangkan dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri.
Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati. Walaupun demikian dia selalu bersikap ceria sehingga membuat beberapa orang datang menemuinya di dalam penjara. Mereka menaburkan bunga dan catatan-catatan kecil di jendela penjara. Mereka ingin dia tahu bahwa mereka juga percaya tentang cinta dirinya. Salah pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil "Love from your Valentine".
Dan pada tahun 496 Paus Gelasius meneapkan 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Februari menjadi tanggal saling tukar menukar pesan kasih dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga dan gula-gula. Bahkan sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.
Dari paparan di atas kita tahu bahwa kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam. Namun kenapa remaja-remaja Muslim ikut larut dan merayakannya? Ada beberapa jawaban yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan tersebut:
Remaja Muslim kita tidak tahu latar belakang sejarah Valentine's Day sehingga mereka tidak merasa risih untuk mengikutinya. Dengan kata lain, remaja Muslim banyak yang memiliki kesadaran sejarah yang rendah.
Adanya anggapan bahwa Valentine's Day sama sekali tidak memiliki muatan agama dan hanya bersifat budaya global yang mau tidak mau harus diserap oleh siapa saja yang kini hidup di - untuk meminjam McLuhan - global village.
Keroposnya benteng pertahanan religius remaja kita sehingga tidak mampu lagi menyaring budaya dan peradaban yang seharusnya mereka "lawan" dengan keras.
Adanya perasaan loss of identity kalangan remaja Muslim sehingga mereka mencari identitas lain sebagai pemuas keinginan mendapat identitas global.
Hanya mengikuti trend yang sedang berkembang agar tidak disebut ketinggalan zaman.
Adanya pergaulan bebas yang kian tak terbendung dan terjadinya de-sakralisasi seks yang semakin ganas.
Mungkin masih ada deretan jawaban lain yang bisa diberikan terhadapa pertanyaan di atas.
Bisa kita lihat pada bahasan di atas bahwa Valentine Day merupakan peringatan "cinta kasih" yang diformalkan untuk mengenang sebuah peristiwa kematian seorang pendeta yang mati dalam sebuah penjara. Yang kemudian diabadikan oleh gereja lewat tangan Paus Gelasius. Maka merupakan sebuah hal yang kurang cerdas jika kaum Muslim - secara khusus kalangan remajanya - ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal dan religius dengan mereka.
Keikut sertaan remaja Muslim dalam "huru-hura" ini merupakan refleksi kekalahan mereka dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya: Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih pada sesama?
Tak ada yang menyangkal bahwa Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta pada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan. Cinta yang merupakan perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihanya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang dalam Islam dibagi menjadi tiga tingkatan yang kita tangkap dari ayat Al-Quran:
Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kami khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik (At-Taubah: 24)
Dalam ayat ini menjadi jelas kepada kita semua bahwa cinta tingkat pertama adalah cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya yang kemudian disebut dengan cinta hakiki, kemudian cinta tingkat kedua adalah cinta kepada orang tua, isteri, kerabat, dan seterusnya. Sedangkan cinta tingkat ketiga adalah cinta yang mengedepankan cinta harta, keluarga dan anak isteri melebih cinta pada Allah, Rasul dan jihad di jalan Allah.
Cinta hakiki akan melahirkan pelita. Cinta hakiki yang dilahirkan iman akan senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan nurani. Cinta hakiki akan melahirkan jiwa rela berkorban dan mampu menundukkan hawa nafsu dan syahwat birahi. Cinta akan menjadi berbinar tatkala orang yang memilikinya mampu menaklukkan segala gejolak dunia. Cinta Ilahi akan menuntun manusia untuk hidup berarti dan setelah itu mati-untuk meminjam kata Chairil Anwar.
Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri (HR. Muslim), perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya : tidak bisa tidur dan demam (Bukhari Muslim). Seorang mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat: 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr: 9).
Di mata Islam mencinta dan dicinta itu adalah "risalah" suci yang harus ditumbuhsuburkan dalam dada setiap pemeluknya. Makanya Islam menghalalkan perkawinan dan bahkan pada tingkat mewajibkan bagi mereka yang mampu. Islam tidak menganut "selibasi" yang mengibiri fitrah manusia seperti yang terjadi dalam ajaran Kristen dan Hindu, serta Budha yang menganut sistem sosial yang dikenal dengan kependetaan. Sebab memang tidak ada rahbaniyah dalam Islam.
Valentine Day yang merupakan ungkapan kasih selain "hamil" nilai-nilai religus yang bukan bagian dari agama kita juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif. Dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Peniruan pada perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.
Sebagai agama pamungkas Islam dengan tegas memposisikan diri sebagai agama yang diridhai Allah dan siapa saja yang ingin mencari agama selain Islam maka agamanya tidak akan diterima(Lihat: Ali Imran ayat 19 dan 185).
Dan sebagai agama terakhir Islam telah melakukan beberapa pembenaran dari berbagai penyelewengan yang terjadi dalam agama Kristen dan agama Yahudi. Islam mengharuskan pemeluknya untuk membentengi diri dari semua budaya yang datang dari kalangan Yahudi dan Kristen. Kaum Muslimin harus memiliki budaya dan identitasnya sendiri yang bersumber pada norma dan ajaran agamanya.
Setelah kita mengetahui bahwa Valentine's Day sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah dengan Islam, maka menjadi tugas semua remaja Islam untuk menghindari dan tidak ikut serta dalam sebuah budaya yang tidak bersumber dari ajarannya. Valentine's Day bukanlah simbol dan identitas remaja Muslim karena ia merupakan hari raya kalangan remaja Kristen. Dan kita persilahkan saudara-saudara kita dari remaja kalangan Kristen untuk merayakannya sesuai dengan keyakinan mereka.
Ada satu hadits yang sangat terkenal yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda: Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka (Abu Daud). Hadits ini mengisyaratkan bahwa meniru-niru budaya-religi orang lain yang tidak sesuai dengan tradisi Islam memiliki resiko yang demikian tinggi sehingga orang tersebut akan dianggap sebagai bagian dari orang yang ditiru. Sebagaimana juga firman Allah, Barang siapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51)
Sabda Rasulullah: Kau akan bersama-sama dengan orang yang siapa yang kau cintai (Bukhari Muslim). Banyak contoh yang bisa kita kemukakan dari kontra-kultural yang dilakukan Rasulullah untuk mengokohkan identitas umatnya.
Saat Rasulullah datang ke Madinah dia melihat penduduk Madinah bersuka-ria dalam dua hari. Kemudian Rasulullah bertanya: Hari apa dua hari itu? Pada sahabat menjawab: Dua hari tadi adalah hari di mana kami bermain-main dan bersuka cita di masa jahiliyah! Maka bersabdalah Rasulullah: Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian: Iedul Adha dan Iedul Fithri. (HR. Abu Daud)
Rasulullah misalnya melarang umatnya makan dengan tangan kiri karena cara itu adalah cara makan setan. (HR. Muslim)
Larangan Rasulullah untuk kembali memperingati 2 hari dimana orang-orang Madinah biasa bermain di zaman jahiliyah merupakan perlawanan budaya terhadap budaya jahilyah dan digantikan dengan budaya-religi baru. Sedangkan pelarangannya agar tidak makan dengan tangan kiri juga merupakan perang etika Islam dengan etika setan.
Allah tidak menghendaki kaum Muslimin menjadi "buntut" budaya lain yang berbenturan nilai-nilainya dengan Islam. Peringatan Allah pada ayat di atas membersitkan pencerahan pada kita semua bahwa Islam dengan ajarannya yang universal harus dijajakan dengan rajin pada dunia mengenal Islam dengan cara yang benar dan agar Islam menjadi "imam" peradaban dunia kembali. Sebab kehancuran peradaban Islam telah menimbulkan kerugian demikian besar pada tatanan normal manusia yang terkikis secara moral dan ambruk secara etika.
Kemunduran peradaban Islam telah menjebak dunia pada arus kegelapan akhlak dan moralitas. Kehancuran peradaban Islam ini oleh Hasan Ali An-Nadawi dianggap sebagai malapetaka terbesar dalam perjalanan peradaban manusia. Dia berkata, "Kalaulah dunia ini mengetahui akan hakikat malapetaka ini, berapa besar kerugian dunia dan kehilangannya dengan kejadian ini, pastilah dunia hingga saat ini akan menjadikan kemunduran kaum Muslimin sebagai hari berkabung yang penuh sesal, tangis dan ratapan. Setiap bangsa di dunia ini akan mengirimkan tanda berduka cita.
Apa yang menimpa remaja Muslim saat ini tak lebih dari dampak keruntuhan peradaban Islam yang sejak lama berlangsung. Remaja Muslim masa kini "buta" terhadap peradabannya sendiri diakibatkan munculnya serangan budaya yang gencar menusuk jantung pertahanan budaya kaum Muslimin. Kemampuan mereka untuk bertahan dengan ideal-ideal Islam yang rapuh menjadikan mereka terseret arus besar peradaban dunia yang serba permisif, hedonis dan materialistik.
Lumpuhnya pertahanan mereka terhadap gencarnya serangan budaya lain yang terus menggelombung menjadikan mereka harus takluk dan menjadi "budak" budaya lain. Maka sudah saatnya bagi remaja Muslim untuk memacu diri melakukan gerilya besar dengan mengusung nilai-nilai Islam sehingga dia mampu mengendalikan diri untuk tidak terpancing apalagi larut dengan budaya-reliji lain. Generasi muda Muslim hendaknya mampu membangun benteng-benteng diri yang sulit ditembus oleh gempuran-gempuran perang pemikiran yang setiap kali akan mengoyak-ngoyak benteng pertahanan imannya.
Perlawanan budaya ini akan bisa dilakukan jika remaja Muslim mampu mendekatkan dirinya dengan poros ajaran Islam dan mampu melakukan internalisasi diktum-diktum itu ke dalam kalbu, dan sekaligus terkejawantahkan ke dalam aksi. Remaja Muslim yang mampu menjadikan keimanannya "hidup" akan mampu bergumul dan bahkan memenangkan pertarungan yang sangat berat di hadapannya. Remaja Muslim yang dengan setia menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai panduan hidupnya akan mampu menjadi seorang Muslim tahan banting dan imun terhadap virus budaya global yang mengancam identitasnya.
Seorang remaja Muslim yang menjadi the living Quran akan mampu melakukan kontra aksi terhadap semua tantangan yang dihadapinya. Dia akan mampu menangkis serangan informasi satu arah yang kini datang dari Barat.
Apa yang mesti dilakukan oleh kalangan muda Islam di zaman serba kompleks ini?
Dalam pandangan saya tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan kecuali kita semua kembali merapatkan jiwa dan kesadaran kita ke akar norma agama kita sendiri, lalu kita gali sedalam-dalamnya, kita renungkan semaksimal mungkin, kita aplikasikan dalam hidup ini. Dan kita pasarkan ajaran-ajaran Islam itu dengan sepenuh raga dan jiwa. Hanya dengan spirit berjuang yang tinggi dan komitmen yang kuat remaja Muslim akan lahir kembali dalam sosok yang cemerlang dengan Islam sebagai panji.***
- Penulis adalah Alumni International Islamic University, Islamabad, Pakistan



Read More......
0 komentar

VALENTINE'S DAY : TRADISI SAMPAH

"Di tahun ini aku ingin melaluinya (valentine) dengan seseorang yang aku kenal tiga tahun yang lalu. Berada di suatu tempat yang banyak ditumbuhi bunga mawar merah. Trus, banyak coklat berbentuk hati bergelantungan di sana-sini…, kemudian cowokku menyuruhku untuk tutup mata dan ia memakaikan kalung liontin pink berbentuk hati" (Masya Allah), itulah ungkapan yang menggambarkan angan seseorang di hari Valentine (Jawa Pos,8/2/02). That's Valentine's Day, yang diperingati oleh muda-mudi setiap tanggal 14 Februari. Semacam ritual muda-mudi yang sedang dimabuk cintrong or yang lagi cari pasangan, mulai dari tukar kado, hingga berdua-duaan yang so pasti berbau maksiatisasi, having fun dan hura-hura yang tiada bermakna
Cinta Atau Seks?
Kenapa ikut pesta Valentine's Day? Karena acara itu adalah perayaan kasih sayang? Bisa jadi begitu jawabannya. Sebenarnya bukan kasih sayang, tetapi lebih ke arah bagaimana mengumbar hawa nafsu or seks. Orang orang Barat, biasa mengucapkan kata-kata cinta dan kasih sayang dengan ucapan, make love. Nah, tentu saja itu artinya bermain cinta yang ujung-ujungnya intercourse alias bersetubuh. Wah, berabe itu!
Oke, sekarang kamu percaya nggak kalo dikatakan bahwa sebenarnya model gaul anak-anak muda seusia kamu itu sudah liar. Persis apa yang diajarkan oleh James Van Der Beek dan kawan-kawannya dalam serial Dawson's Creek. Atau gaya gaul model KNPI alias Kissing, Necking, Petting dan Intercourse, seperti pergaulan amburadul (seks dan kokain) yang sering digambarkan oleh Shannon Doherty, Tiffani "Valerie" Amber-Thiesen, Luke "Dylan McKay" Perry, Brian "David" Austin dan Jason "Brandon" Prestley dan kawan-kawannya dalam Beverly Hills 90210. Nah, begitulah gaya gaulnya remaja Barat. Rusak berat, Non!

Cinta = Doping
Ya, cinta memang doping. Bikin penasaran dan ampuh membangkitkan kekuatan. Dan Valentine's Day hanyalah bungkus, kemasan yang menurutmu bisa bikin tambah lengket dengan kekasihmu. Yang sebetulnya kamu lagi nyari semacam legalisasi atau argumentasi dari nafsu liar kamu terhadap lawan jenismu. Kalo cinta bukan dopping, nggak bakal Hitler mati-matian ngejar Eva Braun. Atau kagak bakalan Julias Caesar memburu cinta Cleopatra. Juga Barbara Yung-pemeran A Yung dalam film Sia Tiauw Eng Hiong-bunuh diri hanya gara-gara nggak kesampaian asmaranya. Karena cinta pula yang mendorong Candraswami-politikus India-punya skandal dengan Pamela Bordes yang saat itu menyandang gelar Miss Universe.
Dalam kisah Midsummer Night's Dream karya William Shakespeare yang diangkat ke layar lebar dan dibintangi Michelle Pfeiffer ada sebuah dialog yang mengatakan bahwa, cinta sanggup menyibukkan hidup manusia. Benarkah? Yang pasti memang cinta mampu membuat orang bergairah sekaligus lupa diri! Nah, makanya di sini perlu kendali yang bisa menjinakkan efek samping dari dopping tersebut. Bila tidak? Ya, akan liar. dan bukan lagi sesuatu yang sakral dan suci, tetapi sampah!
Valentine's Day, darimana datangnya ?
Valentine's Day is so sweet, itu anggapan dari beberapa kalangan "young guns" di metropolis. Demi kekasih, katanya, hingga mereka berani merogoh kocek untuk membelikan hadiah buat sang doi, supaya suasananya lebih romantis.
Suatu peringatan pasti ada sejarah 'n latar belakangnya, begitu pula ama yang namanya valentine day itu, sejarahnya pasti ada. Trus,…apa hubungannya diceritain ama kita-kita! Ya,..Islamuda tau koq kalo itu nggak bakal keluar di ulangan sejarah sobat muslim, cuman yang kayak ginian ini perlu dilurusin supaya sobat semua tau kenapa perayaan ini disebut budaya sampah, meski sebagian besar penikmat hari valentine nggak ngurus dengan yang namanya sejarah valentine day, katanya EGP (Emang Gue Pikirin), pokoke valentine TOP BGT SKL (top banget sekali). Padahal kalau mereka tahu (khususnya yang muslim) asal muasal cerita velentine day, bakal terbelalak matanya, kalau tidak terbelalak ya harus terbelalak (yee ... maksa).
Konon si empunya cerita, valentine day diperingati untuk mengenang jasa seorang pendeta kristen namanya St. Valentino tapi ada yang menceritakan St. Valentine beda huruf terakhirnya aja, yang hidup di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Cladius II (268-270 M). Begini ceritanya, orang-orang Romawi merayakan acara untuk memperingati suatu hari yang menurut mereka bersejarah pada tanggal 15 Februari, mereka menamakannya Lupercalia untuk memperingati Juno (Dewa wanita dan perkawinan) serta Pan (Dewa dari alam ini).
Acara ini berisi pesta muda-mudi yang memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama yang dimasukkan dalam jambangan kemudian diundi. Pasangan itu saling tukar kado sebagai pernyataan cinta kasih, acara dilanjutkan dari pesta dansa-dansi sampai pesta seks. Setelah penyebaran Kristen para pemuka gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen terhadap perayaan para pemuja berhala itu. Pada tahun 496 Masehi Paus Gelasius (Pope Gelagius) mengganti perayaan itu menjadi Saint Valentine's Day dan dipindah tanggalnya menjadi 14 Februari yang diperingati sebagai penghormatan bagi seorang pendeta yang dihukum mati pada tanggal tersebut.
Dalam sejarah Velentine para ahli sejarah tidak setuju dengan adanya upaya untuk mengaitkan hal itu dengan kematian St. Valentine yang dipenggal kepalanya di Palatine, tapi sejarah lain mengatakan acara valentine dikaitkan dengan St. Valentine yang lain, yang dikejar-kejar karena memasukkan suatu keluarga Romawi ke dalam Kristen, kemudian dia dipancung di Roma sekitar tahun 273 Masehi. Walhasil tidak sedikit versi cerita valentine day itu, tapi hasil akhirnya sama bahwa sejarah valentine day hanya rekaan dan bisa jadi bohong (terbelalak khan!).
Memperingatinya ? No way !!!
Okey, itulah cerita betapa semrawutnya asal muasal Valentine day, kalau kamu udah tahu betapa tidak jelas asalnya, lalu mengapa musti sibuk-sibuk memperingati segala. Memperingati valentine day dengan cara apapun dan dengan siapapun tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam dan kalau kita yang ngaku muslim bila ikut memperingatinya tidak bedanya kita dengan orang be-o-de-o penyembah berhala Juno dan Pan.
Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap valentine day? (Makanya ngaji, biar tahu hukumnya valentine day). Sebenarnya seorang muslim segala perbuatannya telah mempunyai hukum dan wajib baginya untuk mengetahui hukum dari perbuatan dia sebelum perbuatan itu dilakukannya. Begitu pula untuk berkasih sayang versi valentine day harus lebih dahulu diketahui hukumnya, lalu diputuskan untuk dilaksanakan atau tidak.
Di kalangan para ulama fiqih telah ada suatu kaidah ushul fiqih yang menyatakan
"Asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syariat Islam"
Dimana kaidah itu diambil dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits-hadits yang telah mengatur perbuatan manusia secara paripurna, tidak meleset sedikitpun dari incaran syariat Islam meski perbuatan manusia dilakukan di jaman yang akan datang yang tidak ada pada jaman Rasulullah, salah satu contohnya adalah valentine day itu, Son.
Ketika kita baca-baca firman Allah dalam Al-Qur'an jelas sudah bahwa Allah memberi rambu-rambu kepada kita, maka jangan sekali-kali kita melanggar rambu-rambu tersebut kalau kamu tidak ingin mendapat adzab fid dunia wal akhirat misalnya firman Allah yang ini :
"Dan putuskanlah perkara diantara mereka (kaum muslimin), dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu, jangan kamu mengikuti hawa nafsu mereka (orang-orang kafir) setelah jelas datang peringatan dari Allah" (TQS. al-Maidah 48)
atau firman-Nya yang satu ini :
" .... dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau demikian termasuk golongan orang-orang dhalim" (TQS. al-Baqarah 145)
Tapi mas, kita khan cuma kebetulan/insident (bukan merk pasta gigi lho) aja ikutan valentine day. Kita khan nggak meyakini apalagi mengimani sejarahnya. Ya,… OK kalo' kamu ngomong gitu sih…. Memang tidak ada secara langsung ayat atau hadits menjelaskan kesalahan atau kebobrokan valentine day tapi Allah dan Rasul-Nya melarang suatu perbuatan tidak harus diperinci atau dijelaskan satu per satu perbuatan yang terkategori terlarang, cukup dengan makna ekplisit disampaikan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Larangan merayakan valentine day terkategori dalam firman Allah dan sabda Rasul-Nya berikut ini misalnya Sabda Rasulullah Saw.
" Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani .." (HR. Tirmidzi)
"Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai (tingkah laku dan sikapnya) umat selain umat Islam" (HR. Tirmidzi)
"Siapa saja yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk golongan tersebut" (HR. Abu Daud dan Ahmad).
Jika kamu mafhum (paham) dengan hadits-hadits diatas, maka sudah barang tentu konsekuensi dari pemahaman adalah meninggalkan segala aktivitas yang termasuk dalam larangan meniru atau menyerupai orang kafir (Yahudi, Nasrani, Majusi dll) tanpa bertanya lagi apa manfaat (maslahat) dari meninggalkan larangan itu, sebab Allah Maha Mengetahui termasuk tentang kemanfaatan dari syariat yang dibuat-Nya.
Jadi alasan kamu tadi yang katanya cuman "kut-ikutan", nggak masuk akal blas… Rek! Sama seperti kamu pergi di hari Minggu, lalu ikut kebaktian di gereja, kemudian pulang dan ngomong, "Aku tadi cuma ikut-ikutan koq, aku nggak meyakininya!" Padahal semua orang tahu, siapa yang bakal percaya sama kamu? Sedangkan Hadits tadi sudah menjelaskan secara jelas. Amit-amit jabang baby,. kacihan dech loe….
Valentine day, salah satu dari larangan Allah dan Rasul-Nya bagi ummat islam untuk mengikutinya, baik itu tua, muda, anak-anak, laki, perempuan kalau menyatakan dirinya Islam, asal jangan Islam di KTP doang, harus meninggalkan aktivitas valentine day. Ingat sabda Rasulullah yang artinya :
"Barang siapa melakukan suatu aktivitas, tidak berdasarkan pada perintahku (Al-Qur'an dan Hadits) maka aktivitas tersebut tertolak" (HR. Ahmad)
So, tidaklah umat Islam kalau kamu masih merayakan valentine day, meski kamu sholat sampai jidat kamu hitem, meski kamu puasa sampai badan kamu lunglit (balung-kulit) kalau kamu masih merayakan valentine day sama halnya dengan mengisi air di tong yang bocor, hasilnya? Nol. Sebab acara ritual itu berasal dari umat yang Aqidahnya rusak seperti di ceritakan di atas, kalau kita mengikutinya sama rusaknyalah kita dengan mereka, sama bodolah kita dengan mereka, sama jahilnya kita dengan mereka. Lalu dimanakah kemuliaan Islam itu, kalau Allah mengatakan dalam firman-Nya :
"Sesungguhnya dien (agama) yang diridhloi oleh Allah hanya Islam" (TQS. ali-Imron 19)
atau Sabda Rasulullah Saw. :
"Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya" (HR. Muslim)
Apa firman Allah dan Hadits Nabi itu hanya isapan jempol? Tentu tidak. Kemuliaan Islam hanya bisa ditunjukkan apabila syariat Islam ditegakkan di muka bumi, jikalau banyak kaum muslimin yang mengikuti cara hidup, gaya hidup orang kafir macam valentine day artinya banyak hukum Islam yang tidak diterapkan dalam kehidupan maka sudah barang tentu, Al-Qur'an dan Hadits hanya menjadi sebuah bacaan yang indah dibaca dan merdu untuk di dengar sedangkan penerapannya dalam kehidupan, kosong mlompong. Dan sekarang kita sedang diperingatkan (tadzkiroh) oleh Allah, karena nihilnya umat ini melaksanakan syariat Islam, atau melaksanakan tapi hanya sebagian yang tidak menyinggung perasaan orang lain, yang enak bagi dirinya sendiri, yang menurutnya bermanfaat bagi orang banyak. Salah satu peringatan Allah itu sekarang sedang kita nikmati, krisis moneter yang berlanjut kepada krisis-krisis lainnya yang tidak ada ujungnya.
Hendaknyalah kita renungkan perkataan sosiolog Ibnu Khaldun yang menyatakan
"Yang kalah cenderung mengekor yang menang, dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk di sini adalah mengikuti adat istiadat mereka ........". Hal itu selaras dengan apa yang telah di sabdakan Nabi :
"Tidak akan kiamat sebelum umatku mengikuti apa-apa yang dilakukan bangsa-bangsa terdahulu, selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta". .............. Diantara para sahabat ada yang bertanya "Ya, Rasululah apakah yang dimaksud (di sini) adalah bangsa-bangsa Yahudi dan Nasrani ?" Rasulullah menjawab "Siapa lagi (kalau bukan mereka) (HR. Bukhori)
Demikianlah siasat orang Yahudi dan Nasrani bahwa mereka punya rencana jahat terhadap umat Islam, dengan berkedok modernisasi mereka mengelabui umat Islam, oleh karena itu mengikuti valentine day sama halnya dengan merelakan diri kita duduk bersama mereka di api neraka, Naudzubillah min dzalik. Hanya orang be-o-de-o saja yang nggak bisa bedakan neraka dan surga, so janganlah menjadi generasi be-o-de-o, generasi millenium bukan generasi minim aqidah, tapi generasi millenium adalah generasi yang menikmati millenium tapi mereka tidak lupa bahwa way of life mereka berbeda dengan orang kafir, itu yang harus disadari.

Valentine, Kenikmatan Sesaat yang Sesat
Menikmati valentine day sama halnya dengan mencicipi api neraka, kalau mencicipi es dawet sih, masih enak, tapi kalau sudah mencicipi api apalagi ditambah api neraka, bukan hanya bibir yang kebakaran tapi ubun-ubun bisa mendidih, ngeri khan? makanya, kenikmatan sesaat dengan valentine day belum tentu menyelamatkan kita di akhirat, tapi dengan kenikmatan yang dilandasi Aqidah Islam yang benar dan tuntas akan membawa sebuah kebahagian yang hakiki.
Wallahu 'alam bishowab. (LBR/DY)




Read More......

Selasa, 09 Februari 2010

0 komentar

ADIL (KEADILAN)
Di antara nilai-nilai kemanusiaan yang asasi yang dibawa oleh Islam dan dijadikan sebagai pilar kehidupan pribadi, rumah tangga dan masyarakat adalah "Keadilan." Sehingga Al Qur'an menjadikan keadilan di antara manusia itu sebagai hadaf (tuluan) risalah langit, sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan." (Al Hadid: 25)

Tiada penekanan akan nilai keadilan yang lebih besar dari pada perkara ini (bahwa Allah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Nya) untuk mewujudkan keadilan.

Maka dengan atas nama keadilan kitab-kitab diturunkan dan para rasul diutus. Dengan keadilan ini pula tegaklah kehidupan langit dan bumi. Dan yang dimaksud dengan keadilan adalah hendaknya kita memberikan kepada segala yang berhak akan haknya, baik secara pribadi atau secara berjamaah, atau secara nilai apa pun, tanpa melebihi atau mengurangi, sehingga tidak sampai mengurangi haknya dan tidak pula menyelewengkan hak orang lain. Allah SWT berfirman:

"Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." (Ar-Rahman: 7-9)

Islam memerintahkan kepada seorang Muslim untuk berlaku adil terhadap diri sendiri, yaitu dengan menyeimbangkan antara haknya dan hak Tuhannya dan hak-hak orang lain.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin 'Amr ketika mengurangi haknya sendiri, yaitu dengan terus menerus puasa di siang
hari dan shalat di malam hari. "Sesungguhnya untuk tubuhmu kamu punya hak (untuk beristirahat), dan sesungguhnya bagi kedua matamu punya hak dan kepada keluargamu kamu punya hak, dan untuk orang yang menziarahi kamu juga mempunyai hak." (HR. Muttafaqun 'Alaih)

Islam juga memerintahkan bersikap adil dengan/terhadap keluarga, isteri, atau beberapa isteri, anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Allah SWT berfrman:

"Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja ..." (An-Nisa': 3)
Rasulullah SAW bersabda:
"Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersikap adillah terhadap anak-anakmu." (HR. Muttafaqun 'Alaih)

Ketika Basyir bin Sa'ad Al Anshari menginginkan agar Nabi SAW menyaksikannya atas pemberian tertentu, ia mengutamakan pemberian itu untuk sebagian anak-anaknya. Maka Nabi SAW bertanya kepadanya:

"Apakah semua anak-anakmu kamu beri mereka itu seperti ini?" Basyir berkata, "tidak!," Nabi bersabda, "Mintalah saksi selain aku untuk demikian itu, sesungguhnya aku tidak memberikan kesaksian terhadap suatu penyelewengan." (HR. Muslim)

Islam memerintahkan kepada kita agar kita berlaku adil kepada semua manusia. yaitu keadilan seorang Muslim terhadap orang yang dicintai, dan keadilan seorang Muslim terhadap orang yang dibenci. Sehingga perasaan cinta itu tidak bersekongkol dengan kebathilan, dan perasaan benci itu tidak mencegah dia dari berbuat adil (insaf) dan memberikan kebenaran kepada yang berhak. Allah SWT berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar- benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu ." (An- Nisa': 135)
Allah SWT memerintahkan kepada kita agar berlaku adil, sekalipun terhadap kaum yang kita musuhi, sebagaimana dalam firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang- orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Maidah: 8)

Betapa banyak sejarah politik dan hukum dalam Islam yang menggambarkan keadilan kaum Muslimin terhadap orang-orang Muslimin dan keadilan para da'i terhadap rakyat.

Islam memerintahkan kepada kita untuk berlaku adil dalam perkataan kita, sehingga saat kita marah tidak boleh keluar dari berkata benar, dan di saat kita senang tidak boleh mendorong kita untuk berbicara yang tidak benar, Allah SWT berfirman:

"Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah (kerabat (mu)É" (Al An'am: 152)

Islam juga memerintahkan kepada kita untuk bersikap adil dalam memberikan kesaksian, maka seseorang tidak boleh memberi kesaksian kecuali dengan sesuatu yang ia ketahui, tidak boleh menambah dan tidak boleh mengurangi, tidak boleh merubah dan tidak boleh mengganti, Allah SWT berfirman:

"Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah ..." (Ath Thalaq: 2)

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah." (Al Maidah: 8)

Islam juga memerintahkan untuk bersikap adil dalam hukum, sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh) kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil ..." (An- Nisa': 58)

Banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan "Imam dan Adil," dia adalah termasuk tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya. Dia juga termasuk tiga orang yang doanya tidak ditolak.

Selain lslam memerintahkan untuk berlaku adil dan mendorong ke arah sana, Islam juga mengharamkan kezhaliman dengan keras dan memberantasnya dengan kuat, baik kedhaliman terhadap diri sendiri apalagi terhadap orang lain. Terutama kezhaliman orang-orang yang kuat terhadap orang yang lemah, kezhaliman orang-orang kaya terhadap yang miskin dan kezhaliman pemerintah terhadap rakyatnya. Semakin manusia itu lemah, maka menzhaliminya semakin besar pula dosanya.
Rasulullah SAW pernah memberikan wasiat kepada Mu'adz:

"Hati-hatilah terhadap doa orang yang dianiaya, karena tidak ada hijab (halangan) antara doa itu dengan Allah." (HR. Muttafaqun'Alaih)

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Doa orang yang dianiaya itu akan diangkat oleh Allah ke atas awan, dan dibuka untuknya pintu-pintu langit, kemudian Allah berfirman, "Demi kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku tolong kamu walaupun setelah beberapa saat." (HR. Ahmad dan Tarmidzi)

Di antara jelasnya bentuk keadilan adalah sebagaimana yang ditegaskan Islam. yang dalam istilah sekarang disebut "Keadilan Sosial" yang berarti keadilan dalam membagi kekayaan (negara). Dan membuka berbagai kesempatan yang memadai untuk anak-anak ummat Islam, ummat yang satu, dan memberi kepada orang-orang yang bekerja buah amalnya (upahnya) dari jerih payah mereka, tanpa dicuri oleh orang-orang yang berkemampuan dan orang-orang yang mempunyai pengaruh. Mendekatkan sisi- sisi perbedaan yang nampak antara individu dan golongan, antara golongan yang satu dengan yang lain, dengan memberikan batas dari monopoli orang-orang kaya di satu sisi dan berusaha untuk meningkatkan pendapatan orang-orang fakir di sisi lain.

Ini semua jauh-jauh telah diperhatikan oleh Islam, sehingga Al Qur'an ketika diturunkan di Mekkah pun tidak melupakan permasalahan tersebut, bahkan memberikan perhatiannya yang sangat dalam lingkup yang luas.
Maka barangsiapa yang tidak memberi makan kepada orang-orang miskin, ia termasuk ahli Neraka Saqar. Allah SWT berfirman:

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)? Mereka menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan tidak (pula) memberi makan orang miskin." (Al Muddatstsir: 42-44)

Tidak cukup juga kamu hanya memberi makan orang miskin, tetapi kamu juga harus ikut mendakwahkan kepada orang lain untuk memberi makan orang miskin dan menyerukan kepada orang lain untuk memperhatikan kepentingan dan keperluan mereka. Allah SWT berfirman:

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin." (Al Maa'un: 1-3)


Al Qur'an mengumpulkan sikap orang yang menelantarkan orang miskin bersama kekufuran kepada Allah, yang menjadikan wajibnya seseorang untuk memperoleh adzab yang pedih dan masuk ke neraka Jahim, sebagaimana firman Allah SWT:

"(Allah berfirman), "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dahulu dia tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin." (Al Haqqah: 30-34)

Masyarakat jahiliyah itu tercela dan dimurkai oleh Allah karena mereka menelantarkan orang-orang lemah dan hanya mementingkan orang- orang yang kuat untuk memakan harta waris dan mencintai harta mereka.

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampuradukkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (Al Fajr: 17-20)

Islam telah memperhatikan masyarakat lemah. Sebagai realisasinya Islam menentukan hukum dan sarana untuk menyediakan kerja yang sesuai bagi setiap orang yang tidak mendapatkan kerja, gaji (upah) yang adil untuk setiap pekerja (karyawan), makanan yang cukup untuk setiap yang kelaparan, pengobatan yang cukup untuk setiap orang yang sakit, pakaian yang pantas untuk setiap yang telanjang dan mencukupi secara penuh untuk setiap yang membutuhkan, seperti makanan pakaian dan tempat tinggal serta segala sesuatu yang harus dipenuhi, sesuai kondisinya, tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Islam memperhatikan orangorang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Inilah definisi Imam Nawawi dalam kitabnya "Al Majmu."

Untuk memenuhi kebutuhan di atas maka Islam mewajibkan hak-hak harta di dalam harta orang-orang kaya yang mana awal dan akhirnya adalah zakat sebagai rukun Islam yang ketiga, yang harus dilaksanakan oleh seorang Muslim dengan penuh ketaatan dan keikhlasan. Jika ia menolak maka harus diambil secara paksa. Dan kalau ada kelompok kuat yang membelanya maka harus diperangi dengan pedang.

Zakat itu diambil dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang fakir, dengan demikian maka dari ummat untuk ummat. Menurut pendapat yang arjah (lebih unggul) bahwa orang fakir itu diberi zakat untuk mencukupi kebutuhan selama hidup. Dalam batas yang umum selama hasil zakat itu memungkinkan, dengan demikian pada tahun mendatang ia akan menjadi pemberi, bukan pemungut, ia berada di atas bukan lagi di bawah.

Telah disusun beberapa buku tentang masalah ini yang telah sepantasnya untuk ditelaah12), dan di dalam kitab kami yang berfudul "Ash-Shahwah Al lslamiyah wa humumul wathan Al 'Arabiwal lslami" terdapat garis-garis besar yang ditekankan pada pembahasan pilar-pilar keadilan sosial dalam Islam, sangat baik jika anda
jadikan sebagai referensi. 12) Dari Kitab Syaikh Muhammad Al Ghazali, 'Al Islam wal Audha'u al Iqtishadiya



Read More......

Kamis, 10 Desember 2009

Mengapa Rasulullah SAW Begitu Dicintai..?

0 komentar

Cinta para sahabat kepada Rasulullah SAW bukanlah cinta yang dipaksakan. Melainkan cinta tulus yang keluar dari lubuk hati mereka terdalam.
Kecintaan itu lahir, selain karena Allah SWT menamakannya dihati orang-orang yang dikehendaki-Nya, juga karena sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW.Beliau memiliki sifat santun, sabar, lapang dada dan pemaaf disaat beliau mampu untuk membalas, murah hati, dan penyayang. Seperti yang ditunjukan beliau saat beliau bersama orang yang memusuhinya, Ghauras bin Harits.
Suatu ketika, saat Rasulullah SAW sedang tertidur dibawah pohon, Gauras sengaja menyerang beliau. Ketika beliau terbangun, Ghauras telah berdiri dengan pedang yang dihunuskan kearah leher beliau seraya berkata,” Hai Muhammad siapa yang dapat mencegahmu dari aku?”

Beliau menjawab dengan tenang penuh iman, dan lisan yang jujur,”Allah”.
Seketika itu Ghauras menggigil dan jatuhlah pedangnya.
Lalu, Rasulullah SAW bertanya,”Sekarang, siapa yang dapat mencegahmu dari Aku?”
“Jadilah engkau sebaik-baiknya orang yang membalas,”jawab Ghauras pasrah.
Namun Rasulullah SAW tidak membalasnya, malah memaafkannya.
Hati siapa yang tak luluh mendapat perlakuan yang begitu tulus dari orang yang justru disakitinya.Begitu pula dengan Ghauras.Sejak itu ia menjadi seorang sahabat Rasulullah SAW dan aktif berdakwah.
Sifat pemaaf adalah salah satu yang menghimpun hati manusia untuk mencintai Rasulullah SAW dan melembutkan jiwa mereka, serta membuat mereka mencintai beliau sampai ditingkat mana mereka siap untuk mengorbankan jiwanya.tidak ada yang keluar dari kesepakatan ini kecuali orang yang kepalanya ditunggangisetan sehinga ia berbuat sewenang-wenang, menyimpang dari kebenaran, bertindak takabur, dan lebih memilih kesesatan ketimbang petunjuk.
Hindun bin Abu Halah, anak tiri Rasulullah SAW, berkata ketika menggambarkan beliau,”Sesungguhnya diantara sifat pertama Muhammad bin Abdullah SAW adlah selalu menyimpan lisannya sehingga beliau tidak menggunakannya kecuali untuk kebaikan yang diharapkan olehnya. Dan beliau tidak pernah menganjurkan kepada hal yang tidak baik. Bahkan beliau tidaklah bertutur kata kecuali ber faedah untuk pendengarannya. Hsl itu yang melembutkan hati mereka, mendekatkan jiwa, dan tidak membuat mereka merasa asing denganya.
Beliau mengajurkan untuk memberikan hak kepada orang yang memilikinya. Beliau tidak pernah berdebat, tidak mencaci seseorang, tidak banyak berbicara karena khawatir slah ucap, tidak mau mencela kehormatan, dan tidak suka memotong pembicaraan hingga orang itu puas dalam berbicara.
Apabila beliau berbicara, pembicaraannya menjadi pemutus, dan ucapannya menjadi ketetapan.”
Bagaimana Mencintai Rasulullah SAW
Setiap muslim atau muslimah mengetahui bahwa mencintai Allah SWT dan mencintai Rasulullah SAW adlah pokok keimanan. Tetapi bagaimana mencintainya? Dari mana mulanya? Apa ukuran-ukuran cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?
Al-Qur’an Al-Karim telah mengajarkan kepada kita dengan jelasbahwa mencintai Allah terkait dan terarah dengan mengikuti Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman,”Katakanlah (Muhammad): Jika engkau mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mencintaimu.”(QS. Ali Imran:31).
Mencintai Rasulullah SAW terkait dengan petunjuknya dan mengikutinya dengan benar, tidak dikurangi atau dilebihkan, apalagi dicampuri dengan bid’ah-bid’ah yang sesat. Petunjuk yang mmbuat iman menjadi sempurna, yang membuat jiwa senantiasa measakan kecintaan, kerinduan, dan kedekatan dengan Rasulullah SAW sehingga beliau lebih dicintai ketimbang dirinya sendiri.
Ukuran cinta yang sebernarnya kepada Nabi SAW adalah sejauh mana kedekatan seseorang dengan ajaran-ajarannya, kepeduliannya terhadap ajaran-ajarannya itu, serta perhatiannya akan sunahnya dan sunah Khulafa’ur Rasyidin. Rasulullah SAW bersabda,”Kalian wajib berpegang pada sunahku dan sunah Al-Khalafa’ur Rasyidin sesudahku. “(HR At tarmudzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Jadi, Rasulullah SAW telah meninggalkan keopada kita ajaran yang terang benderang. Karena itu, menjadi kewajiban kita untuk memegang erat-erat ajaran agama ini. Memiuliki kepedulian terhadap Al-Qur’andengan membacanya, menuangkannya, dan memahami masalah agama yang terdapat didalamnya, mempertautkan diri dengan Sirah Nabi yang mulia dan menimba dari sumber yang segar.
Menjadi keharusan atas diri kita untuk memahami wajibnys mencintsi Allah dan Rasul-Nya. Dan hal itu dimulai dengan mengikuti sunnah- sunnah beliau, yang merupakan jalan kebahagiaan. Jadi, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya mesti menjadi kesibukan utama kita dan puncak cita-cita kita, sehimgga kita termasuk orang-orang yang beruntung.
Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan kita tergolong umst Islam, telah memuliakan kita dengan pemimpin para Rasul dan membuat kita cinta kepada penutup para Nabi, keluarganya yang mulia dan suci, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebajikan sampai hari kiamat. Kita memohon kepada-Nya agar Dia mengumpulkan kita bersama mereka semua.




Read More......
 

Ka'bah Night | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id